Pelaksanaan Sosialisasi KP dan TA

Written by admin. Posted in Berita

Kerja Praktik (KP) dan Tugas Akhir (TA) merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika sebelum mengajukan Tugas Akhir. Kegiatan ini dapat dilakukan di perusahaan yang bergerak di bidang Informasi Teknologi  (IT), maupun di perkantoran yang memiliki atau membutuhkan IT support. Namun ada kalanya setiap mahasiswa yang akan melaksanakan KP merasa bingung saat melakukan persiapan sebelum keberangkatannya untuk KP. Menilik hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) menyelenggarakan acara Sosialisasi Kerja Praktik (KP) dengan mengundang dosen selaku Komisi Kerja Praktik dan mahasiswa sebagai peserta Jumat (26/5/17). Acara ini dilakukan secara internal dan khusus diperuntukkan bagi mahasiswa Program Studi Teknik Informatika angkatan 2014.

Sosialisasi yang berjalan sekitar dua jam tersebut, diisi oleh Komisi Kerja Praktek dan Tugas Akhir, yaitu Nofiyanti, S.Kom.,M.Kom dan Swahesti, S.Kom.,MT. Acara tersebut diawali dengan pemaparan materi dari Nofiyati tentang mekanisme kerja praktik serta pelaporan dari mahasiswa setelah pelaksanaan kegiatan kerja praktek. Hal inti pada pembahasan sesi ini adalah langkah-langkah mengajukan kerja praktik, persyaratan yang harus dipenuhi oleh mahasiswa, ketentuan-ketentuan khusus dalam kerja praktik, dan informasi lainnya. Nofiyati berpesan kepada mahasiswa agar tetap bisa menjaga nama baik diri maupun kampus, jangan sampai melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan kedua belah pihak.

Sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang mana pertanyaannya berasal dari para peserta. Setelah kurang lebih satu jam, acara dilanjutkan oleh Swahesti yaitu pemaparan materi seputar tugas akhir. Dalam sesi ini dipaparkan bagaimana prosedur maupun tips dan trik bagi para mahasiswa yang akan mengerjakan Tugas Akhir. Secara keseluruhan acara, antusiasme dari para mahasiswa Teknik Informatika dalam mengikuti Sosialisasi Kerja Praktek dan Tugas Akhir, patut diberi apresiasi. Terlebih aktifnya para peserta saat acara sosialisasi berlangsung. Semoga dengan adanya acara seperti ini, dapat membantu semua mahasiswa Teknik Informatika dalam menyelesaikan studinya. Dan untuk kedepannya, diharapkan adanya inovasi dan pembaharuan pada acara yang serupa.

Yang Hilang Dari Negeriku

Written by admin. Posted in Berita

Pemandangan yang lazim disaksikan tempo dulu. Dikala anak-anak murid mau memasuki sekolah tempat menimba ilmu. Mereka melewati pintu depan yg sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua berjalan menunduk sebagai bentuk hormat dan “ngajeni” kepada yang lebih tua.

Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat “isinya”. Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa karena maqom (kedudukan) nya.

Namun sekarang itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin hanya tinggal cerita yg bisa dikenang. Sekarang, pendekatan guru sebagai teman terkadang malah kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Tak ada lagi ewuh pekewuh kepada sang guru. Karena dianggap teman dan sekedar fasilitator pendidikan.

Ditempeleng, lapor komnas HAM. Kalau murid gagal, guru disalahkan. Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki pagar. Ada yg berebut membawakan sepedanya dan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.

Diperintah guru mengambil kapur adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yg membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkan.

Gambar tersebut berbicara lebih dari sekedar tata krama. Tapi juga sebuah kesiapan menerima. Dan ikrar tanpa kata. “Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia”. Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tata krama pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.

Ditulis oleh: Andre Raditya

Wisuda Mahasiswa Periode Ke-125 Unsoed

Written by admin. Posted in Berita

Senin 22 Mei 2017 bertempat di Graha Widyatama menjadi saksi pengukuhan para wisudawan ke 125 yang telah dinyatakan tuntas dalam menempuh pendidikan di Unsoed. Gelar baru yakni sarjana telah layak disematkan bagi para wisudawan/wisudawati di belakang nama mereka. Pada hari yang bersejarah bagi para wisudawan ini adalah bentuk pengukuhan dan apresiasi kepada para wisudawan yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengajarkan banyak hal kepada generasi penerusnya. “Yang perlu di ingat momen wisuda bukanlah sebatas huforia saja, melainkan lebih dari itu wisuda merupakan langkah awal untuk menghadapi tantangan hidup yang sebenarnya”. Tak dapat dipungkiri pada saat ini bercermin dari fakta di lapangan untuk di Indonesia tantangan yang harus juga dihadapi adalah pertumbuhan penduduk yang terus meningkat khususnya usia produktif, jika dilihat dari sisi usia dan latar belakang pendidikan, maka seorang wisudawan adalah aktor yang memegang peranan penting dalam membangun Indonesia di masa depan. Sayangnya, sungguh ironis pengangguran terbuka di Indonesia, sebagian diantaranya adalah para sarjana, maka dari itu diharapkan para wisudawan dapat sebaik mungkin mengaplikasikan ilmu yang didapat selama menempuh pendidikan akademik dalam kehidupan dunia kerja yang nyata, tak kalah penting adalah adanya sikap kewirausahaan yang ada dari para wisudawan untuk menciptakan usaha-usaha baru agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja yang ada” pesan dari panitia wisuda. Jurusan Teknik Informatika pada wisuda periode Mei 2017 meluluskan sebanyak 22 wisudawan.

Berdasarkan filosofi wisuda, toga berwarna hitam mengandung makna simbolis bahwasanya misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana waktu mereka menempuh pendidikan di bangku kuliahan. Tidak hanya itu sarjana pula diharapkan mampu menyibak kegelapan dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan oleh mereka. Selain itu warna hitam pula melambangkan keagungan, sebab itu tak hanya sarjana, ada hakim serta separuh pemuka agama pula memakai warna hitam pada jubahnya. Topi toga juga berwarna hitam dan persegi, dimana sudut-sudut persegi pada topi toga menyimbolkan yaitu seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang. Dan juga apa arti dari seremoni kuncir tali di topi toga dipindah dari kiri ke kanan? seremoni memindahkan kuncir tali toga yg semula berada di kiri menjadi ke kanan ternyata berarti yaitu waktu masa kuliah lebih banyak otak kiri yg digunakan semasa kuliah, diharapkan sesudah lulus, sarjana tak sebatas memakai otak kiri (hardskills) semata, tetapi pula dapat menggunakan otak kanan yang berhubungan dgn aspek kreativitas, imajinasi, serta inovasi, dan aspek softskills lainnya, terang Ipung Permadi, S.Si.,M.Cs selaku Sekretaris Jurusan Teknik Informatika Unsoed.